Karang Taruna Tak Sekedar Papan Nama

0
1128

ajiOleh Raji Supriyadi

APA menariknya membahas soal Karang Taruna (KT)? Organisasi yang mewadahi para remaja dan pemuda di desa diakui atau tidak masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat kita. Bahkan organisasi ini hanya sekedar papan nama. Masih untung, disejumlah desa bahkan tak memiliki papan nama. Bah!!

Padahal secara historis Karang Taruna yang dilahirkan 55 tahun lalu, tepatnya 26 September 1960 di Kelurahan Bukit Duri Kampung Melayu Jakarta, didesain menjadi kawah candradimuka bagi anak-anak muda meningkatkan unjuk kabisa dalam perannya ikut membangunan peradaban bangsa di desa.

55 tahun, usia yang tidak lagi muda. Dengan usianya yang memasuki senja, sejatinya tidak berarti organisasi ini makin loyo. Makin tak bertenaga. Harusnya “makin tua makin menjadi”. Makin memberi warna serta makin menjadi model bagi yang lain. Adhitya Karya Mahatva Yodha. Pejuang yang berkepribadian, berpengetahuan dan terampil. Begitu spirit motto yang terpatri pada lambang Karang Taruna. Ditambah sebuah lingkaran dengan bunga teratai yang mulai mekar dengan tujuh helai daun sebagai latar belakang yang merupakan perlambang tujuh unsur kepribadian yang harus dimiliki warga Karang Taruna seperti taat, tanggap, tanggon, tandas, tangkas, terampil dan tulus. Amboy indahnya!

Karang Taruna memang lahir sebagai organisasi sosial kemasyarakatan sebagai wadah dan sarana pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial.

Keberadaan organisasi ini melengkapi organisasi/lembaga kemasyarakatan yang lainnya di desa/kelurahan. Memiliki kedudukan yang sama, setara dengan lembaga lainnya seperti BPD, PKK, MUI serta lembaga lainnya. Namun, apakah selama ini keberadaan Karang Taruna telah berkontribusi nyata dan dirasa oleh masyarakat. Hingga eksistensinya diakui oleh sejagat rakyat di desa.

Bila menengok dari tata pemerintahan, otonomi daerah (otda) merupakan manifestasi kesadaran baru bahwa pembangunan harus berangkat dari perspektif masyarakat. Kenyataannya, otda telah disalah-artikan sebagai pelimpahan kekuasaan pusat ke daerah. Padahal secara substansial lebih merupakan pemberian kewenangan kepada masyarakat untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Begitu pula dengan nasib Karang Taruna, seharusnya dijawab oleh warga Karang Taruna sendiri. Model desentralisasi menjadi pijakan bagi para pengurus mendefinisikan, merencanakan, serta mengaktualisasikan diri baik berupa program maupun karya nyata di masyarakat. Bukan atas kehendak dan perintah penguasa desa, yang belum tentu tahu tentang kebutuhan anak-anak muda. Dan dialog antara Karang Taruna dengan Pemerintah Desa maupun dengan lembaga kemasyarakatan desa yang lainnya menjadi amat penting.

Pun demikian, kondisi bangsa yang terancam oleh bahaya disintegrasi menjadi perhatian banyak pihak. Disana sini masih terdengar aksi tawuran antar kampung di satu desa. Bahkan tawuran meluas dengan melibatkan wilayah desa lain, dengan melibatkan anak-anak usia remaja, bahkan juga seisi kampung terlibat bentrok. Gara-gara hal sepele, semua jadi runyam. Senggolan jogged tarling dangdut di satu kenduri misalnya, berbuntut panjang. Sebuah anomali. Solidaritas yang tak jelas.

Soal oplosan juga sama, tak pernah kapok. Padahal sudah banyak korban berjatuhan, bahkan hingga maut menjemput. Saat ini masih saja ada yang nenggak minuman yang rumusan racikannya tak jelas dari ilmuwan mana. Ini juga melibatkan remaja dan pemuda pada usia anggota Karang Taruna (13-45 tahun) di pelosok desa.

Belum lagi penelitian yang pernah dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan bahwa 50 – 60 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan pelajar dan mahasiswa (usia muda). Total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI adalah sebanyak 3,8 – 4,2 juta (48% di antaranya adalah pecandu dan sisanya sekadar coba-coba dan pemakai).

Daftar persoalan lainnya misalnya pornografi dan kejahatan seksual yang muaranya pergaulan bebas atau seks bebas. Hingga Maret 2014 tercatat sebanyak 3.323 anak yang berumur di bawah 16 tahun menjadi warga binaan (anak didik) di LP/LP Anak di Indonesia karena terlibat berbagai tindak pidana. Mereka berlatar belakang dari keluarga rentan. Demikian juga dengan kejahatan di jalan raya. Tentu tak terhitung kasus-kasus yang sudah masuk katagori kriminilasitas. Juga melibatkan remaja dan anak-anak muda.

Ini sesungguhnya mempertegas persoalan tingkat stadium yang gawat harus segera dijawab oleh anak muda itu sendiri, salah satunya oleh Karang Taruna. Berbagai tantangan dan ancaman, bagi anak-anak muda membutuhkan apa yang disebut daya tahan.

Perlu juga dicatat bahwa setiap tahun angka pengangguran makin siginifikan, rata-rata pendidikan masih rendah, angka kemiskinan belum beranjak turun, derajat kesehatan masyarakat juga setali tiga uang. Belum lagi bicara degradasi lingkungan, kesetaraan, dan keadilan. Catatannya makin panjang.

Di tengah derasnya tantangan tersebut, harusnya mendorong kita semua untuk membangun dan menguatkan ketahanan sosial yang kuat berbasis pada sumber daya masyarakat di tingkat lokal. Seyogyanya Karang Taruna hadir menjadi komponen pokok dalam pembangunan masyarakat di desa/kelurahan karena selain menjadi organisasi sosial dan lembaga pemberdayaan masyarakat juga merupakan organisasi penghimpun anak-anak muda dengan berbagai latar belakang. Oleh karena itu selain memiliki tugas pokok, fungsi dan peran dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial di desa masing-masing, maka Karang Taruna juga harus hadir menjadi penjaga, pemelihara dan pengembang nilai dan semangat kebangsaan, kejuangan dan kesadaran bela negara.

Jadi sekurang-kuranya dalam pelayanan sosial, Karang Taruna kudue:

Pertama, menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan bagi perencanaan dan pengembangan program-program khususnya pelayanan terhadap penyandang masalah kesejahteraan social (PMKS).

Kedua, menyediakan dan mengembangan sumber daya manusia yang mampu memberikan pelayanan kepada PMKS, seperti relawan sosial terlatih untuk korban bencana alam dan social, tenaga kesejahteaan social untuk penanganan PMKS individu serta pendampingan dan penyuluhan social terlatih.

Ketiga, menyediakan sistem rujukan terpecaya yang mampu memastikan PMKS tertentu dapat ditolong oleh Karang Taruna untuk memperoleh layanan sesuai jenis kebutuhannya di instansi terkait.

Keempat, mekanisme dan pemberdayaan masyarakat khususnya bagi anak-anak muda usia 13-45 tahun yang dikembangkan, misalnya melalui pemberdayaan usaha ekonomi produktif (UEP) serta agenda peningkatkan kapasitas di bidang ekonomi dan social lainnya.

Terpenting, bagaimana Karang Taruna menjadi “menarik” serta “ asyik” bagi remaja dan pemuda di desa. Memahami kebutuhan aktualisasi mereka. Sehingga segenap waktu anak-anak muda dapat ikut serta dalam aktivitas Karang Taruna, berkontribusi nyata pada pembangunan di desa. Bravo Karang Taruna! Semoga. *

*) Ketua Karang Taruna Kabupaten Cirebon, penerima Penghargaan Karya Bhakti Sosial 2014 dan Karang Taruna Award 2013