Membumikan Karang Taruna

0
1263

Oleh Raji Supriyadi

Raji SUpriyadi
Raji Supriyadi

PERMASALAHAN penyandang masalah kesejahteraan sosial  menunjukan angka yang secara kuantitas tidak berubah malah cenderung terus mengalami kenaikan, belum lagi kualitas masalahnya. Misalnya mereka yang dikatagorikan kepala keluarga fakir miskin,keluarga berumah tidak layak huni, wanita rawan sosial ekonomi, balita, anak dan lansia terlantar, serta para remaja dan pemuda yang menjadi korban penyalanggunaan NAPZA, Sebarannya tidak hanya di kota tetapi juga masyarakat pedesaan. Banyak faktor yang menyebabkan kompleksitas munculnya ragam penyandang masalah kesekesejahteraan sosial berada di sekitar kita. Oleh karenanya perlu segera dijawab melalui pemberdayaan potensi dan sumber kesejahteraan sosial seperti halnya Karang Taruna (KT), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Organisasi Sosial (Orsos), Wahana pengembangan sosial berbasis masyarakat, Taruna Siaga Bencana (Tagana), dan dunia usaha yang melakukan kegiatan sosial.

Salah satunya potensi dan sumber kesejahteraan sosial yang menyebar sampai ke tingkat desa/kelurahan adalah Karang Taruna. Dengan merujuk kepada landasan konstitusional UU 32/2004 pada penjelasan pasal 211 ayat 2, Karang Taruna merupakan salah satu perangkat kelembagaan yang mengemban tugas bersama-sama membangun desa/kelurahan. Dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya, warga Karang Taruna didasarkan atas Pedoman Dasar Karang Taruna yang dikeluarkan melalui Peraturan Menteri Sosial Nomor 83/HUK/2005 yang telah diubah melalui Permensos No. 77/2010.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Karang Taruna merupakan organisasi sosial wadah pengembangan generasi muda yang menampilkan karakternya melalui cipta, rasa, karsa dan karya di bidang kesejahteraan sosial. Oleh karena itu karang taruna menjadi aset yang strategis dalam rangka mewujudkan keserasian, keharmonisan, keselarasan dalam kerangka memperkuat kesetiakawanan sosial, kebersamaan, kejuangan dan pengabdian terutama di bidang kesejahteraan sosial. Diharapkan karang taruna dapat mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan kesadaran tanggung jawab sosial setiap generasi muda warga karang taruna dalam mencegah, menangkal, menanggulangi dan mengantisipasi masalah sosial.

Dengan pijakan UU 32/2004 dan Peraturan Menteri Sosial, menempatkan karang taruna dalam tugas pokonya secara bersama-sama dengan pemerintah desa/kel dan komponen masyarakat lainnya untuk menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda, baik yang bersifat preventif, rehabilitatif maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya.

Oleh karenanya sudah sepatutnya bila warga karang taruna harus terpacu membangun tatanan organisasi yang lebih baik lagi. Implikasinya adalah karang taruna harus menjadi agen perubahan. Apalagi dikaitkan dengan makna otonomi daerah, maka karang taruna perlu  memainkan perannya dan bertanggung jawab dalam kerangka civil society yang dituangkan dalam kebijakan organisasi dan pengembangan sistem ekonomi kerakyatan berbasis kepemudaan.

Di tengah permasalahan sosial tersebut karang taruna diharapkan memberikan andil yang tidak sedikit sehingga tercapai prasyarat penyelesaian agenda masalah sosial  yang lebih komprehensif, terpadu, dan terarah. Dorongan pemerintah desa khususnya kuwu dan perangkatnya melalui  pembinaan dan pemberdayaan dapat meningkatkan aspek sumber daya manusia yang memberikan kontribusi terhadap aktivitas karang taruna, baik melalui pendidikan dengan pendekatan non formal maupun informal seperti pelatihan keterampilan sosial, pelatihan kepemimpinan maupun pelatihan peningkatan kemampuan ekonomi warga karang taruna. Mereka perlu dibina terus menerus dan berkelanjutan. Tidak boleh lagi hanya menjadi slogan tetapi betul-betul pemangku kepentingan  memberikan perhatian yang cukup. Karang Taruna tidak boleh lagi hanya sebagai obyek belaka, namun harus ditumbuhkembangkan sehingga mampu mandiri memberikan kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat.

 

Hambatan-hambatan

Kita menyadari betul secara internal banyak kendala yang dihadapi aktivitas karang taruna dalam memainkan perannya di bidang kesejahteraan sosial di desa/kelurahan seperti aspek finasial, organisasi dan SDM. Faktor internal tersebut mengakibatkan tidak berjalannya fungsi sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu fungsi forum komunikasi antar karang taruna seperti Karang Taruna Kecamatan dan Kabupaten sangat strategis sebagai ajang pengembangan serta memperkuat jaringan kerjasama  dalam penyelenggaraan mekanisme organisasi, meningkatkan konsolidasi organisasi serta memantapkan perannya dalam bidang kesejahteraan sosial.

Ke depan karang taruna diharapkan tidak hanya sebagai organisasi papan nama. Karang Taruna tidak boleh lagi menjadi penghias nama sebuah desa/kelurahan, ia harus menjadi jiwa dan mampu memberikan contoh manusia muda dalam ikutsertanya membangun bangsa terutama di desa/kelurahan. Juga perannya dituntut tidak hanya pada saat 17-an saja. Tidak saja hanya berhenti mengorganisir kegiatan lomba, namun lebih jauh lagi melayani, mengupayakan, mengintegrasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai sosial dalam mewujudkan kesejahteraan sosial.

Lantas mampukah wadah manusia muda di desa/kelurahan tersebut mengemban amanat mulia tersebut? Selama ini, harus kita akui organisasi Karang Taruna, berjalan baru sebatas apa adanya. Tentu ini harus dipandang positif guna meningkatkan kinerja wadah insan muda tersebut. Apalagi pemerintah khususnya Pemerintah Daerah memiliki kewajiban untuk membina dan memberdayakannya melalui sosialisasi yang berjenjang dan berkesinambungan. Sebab pembangunan kesejahteraan sosial sepatutnya mampu mengoptimalkan sumber-sumber potensial yang ada di tengah masyarakat. Untuk itu Karang Taruna secara kelembagaan harus dilakukan penguatan.

Penguatan kelembagaan merupakan salah satu pendekatan pembangunan kesejahteraan sosial. Perspektif ini pada dasarnya adalah aplikasi pendekatan keserasian dan keterintegrasian pada tingkat makro. Strategi ini sejalan dengan masalah bangsa dalam menghadapi berbagai krisis multidimensional yang belum tuntas.

Oleh karena itu pendekatan kelembagaan berusaha mengerahkan seluruh lembaga kemasyarakatan khususnya Karang Taruna dalam mengeliminir persoalan yang ada di tengah masyarakat dengan menjalin kerjasama dan kemitraan baik dengan pemerintah, swasta, ormas kepemudaan maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat lainnya melalui pendekatan formal maupun informal dalam rangka meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat.

 

Membumikan Karang Taruna

Ada tiga langkah strategis yang perlu dilakukan Karang Taruna. Pertama, konsolidasi internal. Langkah ini dilakukan untuk menghitung ulang kemampuan dan kapasitas sumber daya yang ada. Menumbuhkembangkan  kesadaran dan tanggung jawab sosial warga karang taruna untuk mencegah, menangkal, menanggulangi dan mengantisipasi berbagai masalah sosial. Pemberdayaan diri (self empowerment) harus menjadi titik awal. Pembangunan jiwa dan semangat kejuangan generasi muda Karang Taruna yang terampil dan berkepribadian serta berpengetahuan, pengembangan jiwa kewirausahaan bagi generasi muda. Langkah ini dilakukan agar Karang Taruna tidak menjadi beban pembangunan. Justru Karang Taruna harus menjadi problem solver pembangunan. Warga Karang Taruna harus menjadi insan cerdas dan kompetitif.

Kedua, pengembangan jejaring kerja (networking), ini dilakukan dalam rangka mewujudkan taraf kesejahteraan sosial bagi masyarakat. Kompleksitas permasalah sosial tidak akan dapat diselesaikan sendiri. Karang Taruna perlu membangun jejaring dengan semua elemen masyarakat agar Karang Taruna dapat diterima di seluruh masyarakat. Karang Taruna harus menjadi wadah yang menampung kebhinekaan. Penguatan sistem jaringan komunikasi, kerjasama, informasi dan kemitraan dengan berbagai sektor lainnya. Warga Karang Taruna harus mampu menjalin toleransi dan menjadi perekat persatuan dalam keberagaman kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Ketiga, pemupukan kreativitas. Langkah ini dilakukan untuk dapat mengembangkan tanggung jawab sosial yang bersifat rekreatif, kreatif, edukatif dan ekonomis produktif dengan mendayagunakan segala sumber dan potensi kesejahteraan sosial. Kreativitas harus menjadi pintu awal untuk memenangkan kompetensi di era dinamis saat ini.

Karang Taruna harus menjadi garda terdepan bagi kesuksesan pembangunan. Dukungan sumber daya yang ada menjadi modal bagi keberhasilan. Karang Taruna harus “membumi” dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Ini berarti bahwa warga Karang Taruna dituntut memahami secara utuh tugas pokok dan fungsi organisasi, dalam rangka meminimalisir permasalahan kesejahteraan sosial. Semoga.

Penulis: Ketua Karang Taruna Kab. Cirebon